Ia lebih menyukai lilin daripada lampu, lebih suka suara mesin tik daripada komputer, dan sangat menyukai gaun berhias renda dan kerutan. Ia bicara dalam bahasa berbunga-bunga, senang bersepeda sambil menikmati wangi garam di udara (karena ia tinggal dekat laut), dan mengawali tiap pagi dengan harum roti dan gula karena kedua orang tuanya memiliki toko roti.


Namanya Polly Madassa, usia 12 tahun. Novel kesukaan: Anne of The Green Gables dan Pride and Prejudice. Berbekal kedua novel romantis itu dan melihat keadaan di sekitarnya, di mana satu-satunya kakak perempuannya, Clementine, memiliki pacar yang, menurutnya, sangat tidak layak mendapatkan kakaknya; juga bahwa Fran sahabatnya sangat mendambakan kehadiran seorang Ibu; dan Mr. Nightsquit yang baik hati serta sudah lama menduda, Polly bertekad menjalankan takdirnya sebagai orang yang akan merajut cinta bagi orang-orang tersayangnya itu.

Dan melihat luasnya pengetahuanku tentang asmara dan percintaan yang kudapat dari membaca Jane Austen, aku sangat bersedia dan siap mengemban tugas itu (hlm. 6)

Apalagi selama libur musim panas itu, Polly mendapat tugas mengantarkan pesanan roti ke beberapa langganan. Jadilah Polly tak hanya mengantarkan roti, tapi juga mengantarkan cinta.
Namun, apakah cinta bisa berjalan selancar cerita dalam novel romansa? 
Akankah Polly berhasil?
Bagaimana bila niat baiknya justru mendatangkan bencana di mana-mana?


Judul buku             : Scones and Sensibility
Penulis                   : Lindsay Eland
Penerjemah            : Barokah Ruziati
Penyunting              : Ida Wajdi
Penerbit                 : Atria
Cetakan                 : I, Maret 2011


Alasan saya membeli buku ini adalah karena pertama, novel ini terbitan Atria (imprint Penerbit Serambi dan saya sudah telanjur memberi cap recommended pada penerbit itu, maaf ya kalau jadi terlalu subyektif :p)
Dan kedua, penerjemahnya adalah Barokah Ruziati, satu dari beberapa penerjemah favorit saya karena mampu menjadikan Secret Garden begitu mengalir dan enak dibaca :)
Yang ketiga, siapa yang tidak akan jatuh cinta pada covernya?
Saya pribadi, sebagai penyuka novel klasik lengkap dengan embel-embelnya seperti pilihan kata dan settingnya, tentu saja sangat menyukai gaya penulisnya bertutur. Saya juga berani mengatakan bahwa kekuatan novel ini terletak pada hal itu. Menggunakan sudut pandang orang pertama, saya sering tersenyum-senyum sendiri membaca ulah Polly yang kadang sok dewasa dalam alam pikirannya yang masih sangat remaja.
Saya juga menyukai pilihan katanya. Sebetulnya saya ingin mengatakan, "Pilihan katanya Jane Austen banget!"

Tapi saya suka saat Polly sedang melamun karena ia akan mengatakan hal-hal seperti ini:

Dia akan menghirup wangi bunga. Nama Mr. Fisk berdentang di udara bagai lonceng gereja. Pipi Miss Lucy Penny merona merah muda. Kencan pertama mereka. Hari pernikahan yang penuh keajaiban. Fran dan aku memakai gaun kuning muda, melepaskan kupu-kupu liar ke langit biru nan jernih. (hlm. 125)

Atau:

Kembali ke kamar, aku merenungkan peristiwa yang baru saja terjadi. Apakah hatiku mulai melunak terhadap pemuda itu? Tetapi dia bukan sosok yang benar-benar kudambakan dalam diri seorang peminang, dan aku khawatir dia tidak akan pernah bisa. Meskipun tindakannya sangat romantis, namun jelas ikatan di antara kami tidak ditakdirkan untuk terbentuk. (hlm. 221)


Kalau kamu punya adik perempuan/pacar/sahabat/istri yang tipenya romantis, novel ini dijamin cocok sekali baginya, sebab saya sendiri mendapat novel ini sebagai hadiah ulang tahun dari suami tersayang and I like it, A LOT ^_^

0 komentar: